Selasa, 24 April 2018

Perihal Hilang

Aku sudah terlalu panjang menceritakan pentingmu
Hingga kau bosan
Bahkan mereka-mereka pun muak
Lalu menutup kuping rapat-rapat

Aku tahu itu
Tak mengapa
Jika begitu
Maka akan kukatakan perihal hilang

Perihal hilang;
Hilangkan, mengilang, kehilangan

Dan hilangmu sekarang
Adalah kutuk yang membunuhku
:perlahan

Ngaliyan, 24 April 2018 pukul 12.09 am.

NJUT! Perihal Hilang

Kamis, 19 April 2018

Ransel

[19/04/2015 7:20 pm] Mikhaelana:
aku punya kebiasaan buruk; membawa ranselku yang penuh dan berat.

[19/04/2015 7:20 pm] Mikhaelana:
Aku hanya butuh beban yang bisa ditimbang. Butuh sesuatu yang nyata.
Yang bisa kusentuh
Yang bisa membuatku sakit dengan goresan,
Atau luka memar

[19/04/2015 7:23 pm] Mikhaelana:
Aku butuh beban yang nyata
Untuk ditanggung di pundakku
Karena saat kau tak ada,
Beban itu masih sama.

[19/04/2015 7:24 pm] Mikhaelana:
Aku baik-baik saja,
Aku masih kuat.
Setidaknya, untuk ditanggung di pundakku.

[22/04/2015 9:12 am] Ibra Wiratmaja:
Aku baru punya kuota.

[22/04/2015 9:12 am] Ibra Wiratmaja:
Yakin, baik-baik saja?

[22/04/2015 10:02 am] Mikhaelana:
Puas kamu sudah bikin aku textpexctation. :(

[22/04/2015 10:02 am] Ibra Wiratmaja:
:)

[22/04/2015 10:03 am] Mikhaelana:
Tiba-tiba aku jadi ingat obrolan kita di WhatsApp tempo hari

[22/04/2015 10:03 am] Ibra Wiratmaja:
Yang mana?

[22/04/2015 10:39 am] Mikhaelana:
‘diri’ yang sebenarnya entah ke mana.

[22/04/2015 10:40 am] Ibra Wiratmaja:
oh, itu. Hahaha. Kamu kok masih ingat? Biar, dipakai orang lain mungkin.

[22/04/2015 10:41 am] Mikhaelana:
Tapi sekarang sepertinya sudah balik.

[22/04/2015 10:52 am] Ibra Wiratmaja:
fotografi, menulis, banyak berkawan, dan sesekali menyendiri untuk membaca buku. Mungkin itu duniaku.

[22/04/2015 10:52 am] Mikhaelana:
Nikmati saja.

[23/04/2015 8:07 pm] Mikhaelana:
Aku tetep nulis puisi. Maukah kau membaca? Lebih tepatnya, ini lanjutan tempo hari yang kukirim.

[23/04/2015 8:07 pm] Mikhaelana:
Aku butuh beban yang nyata
Kupenuhi ranselku dengan baju-baju
Dan buku-buku
Pun kenangan yang tak lagi kau butuhkan
Aku menampung semua di ranselku.
Kubawa ke mana-mana.
Agar suatu saat nanti aku melepasnya.
Itu benar-benar menjadi ringan
Tanpa beban; tanpa mengenangmu

[24/04/2015 9:21 pm] Ibra Wiratmaja:
Cewek suka kayak gini ya. Hahaha.

Aku mengerti maksudmu. Aku tidak bisa memaksa diri sendiri.

[24/04/2015 9:22 pm] Mikhaelana:
Tapi biarpun aku sudah mencoba,  bagiku ini bukan perkara yang mudah.

[24/04/2015 9:22 pm] Ibra Wiratmaja:
adalah tidak benar jika aku juga menuntut ini-itu ke kamu. Intinya, itu hakmu.

[17/02/2018 13:40 pm] Ibra Wiratmaja:
Mikha..

[17/02/2018 13:40 pm] Mikhaelana:
iya, kamu apa kabar?

[17/02/2018 13:41 pm] Ibra Wiratmaja:
Kabar baik, Mikha. Minta supportnya buat Pandhu dong.  Buka tautan ini >> https://www.instagram.com/BabyContestID2018. Gak ribet kok, cari foto yang bernama “Pandhu Wiratmaja”, lalu like postingannya. Makasih ya, Mikha..

NJUT! Ransel

Rabu, 18 April 2018

Sama

Kau akan menemukan Ibu dengan sayurannya
Dengan sekarung beras, telur ayam, kecap manis, ikan asin
Dan hal-hal yang bisa mengenyangkan perutmu
Juga memenuhi hatimu, tepatnya
Sebab ia punya sehari penuh cinta untuk setiap harinya

Sedang aku; betapapun rindunya
Ku hanya bisa menjelmakannya sebentuk doa
Dan merapalkannya penuh cinta

Ngaliyan, 18 April 2018 pukul 5.45 pm

*)  Sekadar menghibur diri karena bosan bukan main saat mengikuti pembelajaran di kelas.

NJUT! Sama

Selasa, 16 Januari 2018

, ,

Mantan



Kemarin saya mendapati chat bejibun di grup WhatsApp LPM Frekuensi yang sengaja kubiarkan menumpuk tidak kubuka. Tapi tadi pagi aku mengendap-endap membaca satu persatu chat di grup itu  yang diawali dengan chat Mas Paul perihal ajakan mengadakan Writing Challenge (WC) dengan alasan agar tidak gabut saat liburan. “Aku tertarik,” seketika aku membatin. Tapi setelah scroll ke bawah, ternyata tema #WC pertama ini adalah ‘Mantan’ yang katanya terinspirasi dari kisah Mas Naja yang menghadiri acara pernikahan mantannya dengan status jomlo. Sontak, pikiranku langsung mengarah ke “Mantan Pacar”. Lantas, apa yang bisa kutulis dengan tema ini, pikirku. Aku menganggap bahwa cerita-cerita menyoal "mantan pacar"  adalah hal yang sama sekali tidak menarik untuk di-share. Heuheu.

Namun, tidak ada salahnya jika aku join #WC kali ini dengan tema "mantan" yang lain.

Menyoal mantan, aku jadi teringat fenomena yang viral di media sosial terutama di instagram sekitar akhir tahun 2015 sampai pertengahan 2016 lalu.  Tak tanggung-tanggung, meme dengan ungkapan “Dear Mantan, maafkan aku yang dulu” menghiasi timeline setiap kali ku membuka instagram dan hashtag #DearMantan berkibar paling atas di media sosial Twitter.
Meme yang kala itu booming tak lepas dari perbandingan bahwa sang mantan kini terlihat lebih baik bahkan lebih cakep dibandingkan masa lalu saat masih pacaran. Selain netizen, banyak pula publik figur bahkan pejabat pemerintahan seantero negeri ini yang turut meramaikannya.

Jujur saja, kalau menurutku tak ada yang menarik dengan meme #DearMantan ini, selain dua kolase foto yang disandingkan dengan menunjukkan penampilan masa lalu dan foto masa kini yang diklaim lebih baik, kemudian diberi tulisan “Dear Mantan, Maafkan aku yang dulu”. Ya, mungkin dengan begitu agar lebih dianggap kekinian dan bisa jadi sebuah hiburan bagi yang menyukai meme-meme semacam itu.

Anyway, di negara kita tercinta, hal semacam ini menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi penyanyi dan pencipta lagu, sekaligus aji mumpung memanfaatkan momen. Misal saja, fenomena game “Pokemon Go” yang menginsiprasi terciptanya lagunya Faiha yang berjudul “Cari Pokemon”. Tak ketinggalan ungkapan #DearMantan juga telah menginsiprasi setidaknya empat lagu yang kutahu yakni Ikif Kawazhima – Mantan Maafin Aku yang Dulu, Ade Syifa – Dear Mantan (Maafin Aku yang Dulu), iMeymey – Dear Mantan, dan Rinanda – Maaf untuk Mantan.

Entah ini fenomena macam apa, atau bisa jadi semacam ini adalah bentuk budaya latah dalam bereaksi dan berinteraksi di media sosial, namun di sisi lain juga dapat dijadikan sebagai kritik diri kita ketika melihat fenomena yang terjadi belakangan ini dan mengambil sikap untuk memosisikan diri kita baiknya seperti apa.

Balik lagi membahas tentang ‘Mantan’, aku saat menulis ini iseng memasukkan keyword “Dear Mantan” di laman pencarian Google Play di ponselku. Dan aku baru tahu ternyata ada game bertajuk “Dear Mantan” yang dibuat oleh Tinker Games, tim pengembang game dari Kawasan Dago, Bandung. Wajar saja, jarang-jarang aku kepo soal game, jadi meskipun game ini sudah lama rilis yakni Juli 2016, tetap saja aku tidak tahu. Game ini bertujuan untuk mengikis kagalauan dan menyemangati mereka yang putus cinta untuk tetap tegar menjalani hidup. Ceileh.. gini amat ya. Game bergenre kasual ini mengajarkan bahwa putus cinta bukan akhir dari segalanya.

Kulansir dari tempo.co, dalam game ini pemain berperan sebagai lelaki yang diputuskan kekasih karena dinilai tidak memiliki karier yang bagus. Nah, tugas pemain adalah membuktikan bahwa anggapan itu benar atau salah dalam kurun waktu 100 hari dalam permainan. Pemain diminta melakukan beberapa pekerjaan dan meraih uang serta penghargaan sambil memepertahankan nyawa tokoh dan mengatur tingkat cinta kepada mantannya dalam permainan. Singkat cerita, di akhir babak pemain bisa melihat apakah cukup pantas atau tidak untuk kembali ke mantan pacarnya.

Dari game ini, aku jadi teringat dengan terinspirasinya tema “Mantan” dalam Writing Challenge perdana bersama kawan-kawan LPM Frekuensi ini. Bisa jadi ini adalah solusi bagi Mas Naja sebagai usaha melupakan sang mantan yang sudah bersuami itu. Aku mewanti-wanti aja sih, agar Mas Naja tidak men-sleding dari belakang seperti halnya lagu NDX A.K.A - Bojo Ketikung itu. Kerena sadar si Doi sudah milik orang lain. Haha. Atau tidak ada salahnya kalau mas Naja install dan nyoba main game “Dear Mantan” ini saat waktu luang sembari berjuang menjalani hidup dan nantinya memiliki karier yang bagus. Alih-alih jika Mas Naja punya Mantan (lagi) yang belum melepas masa lajangnya, kan, siapa tahu dilirik dan berhasil mendapatkan (kembali) hati si Dia. Heheu.

Satu kalimat untuk mengakhiri tulisan ini, “Ampun, Senior!” :)
NJUT! Mantan

Jumat, 08 Desember 2017

, ,

Ingatan tentang Ibu dan Grup Qasidah Nasida Ria

Kemarin aku mendapati postingan mengenai lagu-lagu futuristik Nasida Ria yang dishare oleh senior Edukasi, Mas Fahmi dan Mas Aziz di timeline teratas Facebookku. Setelah membuka link tersebut dan membacanya, seketika itu aku teringat oleh Almarhumah Ibu. Disamping aku rindu yang teramat dalam sebab sudah hampir dua tahun ibu meninggalkanku, aku teringat kalau ibu adalah penggemar Nasida Ria.

Aku tahu kegemaran ibu kepada grup qasidah asal Semarang ini karena di rumah terdapat kaset pita Nasida Ria. Aku tidak tahu persis jumlahnya. Namun setelah mempunyai CD-DVD Player, yang kuingat terakhir Bapak pernah membeli DVD Album 'Anakku'. Kalau tidak salah. Namun sepertinya kaset pita dan DVD-nya sudah pada rusak karena tidak pernah di-play dan tidak terurus dengan baik, atau bahkan di rumah sudah tidak ada, lenyap entah kemana. Wajar, sekarang jadi anak rantau yang agak jauh dari orang tua. Maka dari itu, aku tidak bisa memastikan.

Pernah ketika aku masih duduk di bangku Raudhatul Athfal (RA) tahun 2004 diselenggarakan lomba karaoke saat HUT RI. Karena aku ditunjuk oleh Ibu Guru untuk mewakilinya. Entah atas dasar apa ibu Guru memilihku. Padahal aku sadar, aku tidak mempunyai suara bagus dan patut untuk mewakili sekolah. Ibuku merekomendasikan untuk menyanyikan lagu 'Kota Santri'. Entah karena lagu-lagu Nasida Ria memang lagi booming kala itu, atau sekadar pilihan subyektif ibuku, aku tidak tahu. Sebagai anak yang  masih oplah-oploh dan polos kala itu, (ya, meskipun sampai sekarang masih oplah-oploh, tapi ya mending lah), aku nurut saja dengan kemauan Ibu. Sepertinya itu bukan hal yang hanya sekali kulakukan. Demikian pula saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena kebetulan dari RA-MTs kumenimba ilmu di lembaga yang sama. Iya, ini adalah kenangan yang berulang-ulang. Nah, dapat satu bukti lagi kan, kalau ibuku penggemar Nasida Ria.

Beranjak remaja, kalau tidak salah mulai dari kelas V, aku mulai akrab dengan internet. Aku gemar menonton video di Youtube. Pulang sekolah sering melipir ke warnet untuk sekadar nonton serial kartun, atau browsing gambar-gambar kartun di Google Image. Dulu tontonanku adalah serial kartun di Lativi yang tayang pagi hari, setelah subuh hingga sebelum berangkat sekolah. Misalnya, Strawberry Shortcake, Franklin si Kura-Kura, dan Blue's Clues dengan jejak kakinya.

Setelah aku punya laptop dan modem aku jadi jarang ngilang dari rumah untuk pergi ke warnet berjam-jam lagi. Aku bisa mengakses internet di rumah. Dari situlah ibuku mulai agak tertarik memanfaatkanku. #eh. Wajar, ibuku saja tidak bisa mengoperasikan HP. Apalagi laptop. Jadi putrinya harus mengalah. Hampir setiap hari, kalau ibuku luang aku disuruh mengakses laman berita. Terutama informasi lokal, jadi aku sering ngepoin website berisi berita terkait Bojonegoro dan sekitarnya. Kalau punya paketan internet yang lumayan, baru kubisa membuka Youtube, lagi-lagi ibuku sering menggangguku. "golekke video Nasida Ria."

Saat itu di Youtube agak susah cari video Nasida Ria. Kalaupun ada kualitasnya videonya jelek. Pun aku sempat punya banyak MP3 Nasida Ria di memory cardku yang sekarang hilang. Lagi-lagi itu karena permintaan ibuku. Beliau juga hafal nama-nama personel Nasida Ria generasi pertama. Saat memutar video yang entah apa judulnya, aku lupa, ibuku bilang, "Wah, ternyata wis beda generasi. Golekke video sing biyen-biyen a". Duh, ibukku riwil, batinku.

Saking seringnya aku disuruh browsing lagu-lagu lawas, terutama Qasidah Nasida Ria, sampai-sampai aku bertanya, "Buk, kenapa tah remen lagu Nasida Ria?." Dengan singkat Ibu menjawab, "Apik. Realistis. Zaman saiki nyatane kayak ngunuiku kabeh a kejadiane?." Entah apa tanggapanku dulu. Lagi-lagi aku tidak mengingatnya secara penuh. Pun aku baru ingat dan sadar saat kubaca artikel kemarin. "Jebul, Ibukku nate sanjang ngeten." Batinku pasca membaca artikel di laman vice.com.

Kukira cerita di atas cukup menjadi bukti kalau ibuku penggemar Nasida Ria. Namun menurutku belum sampai kadar maniak, sih. (Aku tidak tahu sebutan khusus fans Nasida Ria).

Andaikan beliau masih ada, sekarang aku mau bilang, “Ibu, aku kangen disuruh browsing videoclip Nasida Ria di Youtube. Hehehe.”

Jujur, aku senyum-senyum sendiri saat menyelesaikan tulisan absurd ini. Flashbacknya gini amat ya.
Terimakasih sudah membaca.[]

NJUT! Ingatan tentang Ibu dan Grup Qasidah Nasida Ria

Jumat, 20 Oktober 2017

, ,

Kenapa Harus Membaca?

Dicomot dari Internet
"Membaca itu seperti menjelajah" - begitulah kata penulis kenamaan Indonesia, Eka Kurniawan.

Membaca tidak sekadar mengantarkan kita untuk tahu bahwa sebuah karya akan membuat kita bertemu dengan karakter yang berbeda atau membawa kita ke tempat lain. Tapi sering kali kita menemukan pengalaman dari membaca karya tertentu, dari pengarang tertentu, yang berada di luar apa yang kita asumsikan sendiri.

Jika membaca itu seperti menjelajah, berarti saat kita membaca setiap lembar buku sama halnya dengan satu langkah dalam penjelajahan. Its mean, how to travel in time? READ.

Ngomong-ngomong soal kegemaran membaca, pastinya aku gak mak bedunduk bisa membaca sejak lahir. Aku tidak terlahir dari keluarga yang intelektualis, doyan baca, dan menekankan untuk rajin membaca. Orang tuaku tidak memberi fasilitas yang demikian. Kalau ditanya apa penyesalanku dalam hidup? Di list itu salah satunya aku akan menulis "aku tidak gemar membaca sejak dini". Aku baru kepikiran untuk membaca saat SMA. Itu pun gara-gara tugas resensi buku mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang mengharuskanku untuk masuk perpustakaan dan mencari novel di sana. Namun, setelah menghabiskan satu novel, ternyata ketagihan. (Jadi ingat PJTD LPM Frekuensi kemarin, salah seorang kru magang menuliskan motivasinya, "Menulis itu seperti memandangmu, candu". Iya. Bagiku, begitu pula dengan membaca). Lalu kebiasaanku yang semula kalau jam istirahat hanya melipir ke kantin, berubah ke perpustakaan untuk meminjam novel. Akhir masa putih abu-abu, aku jadi sering ke toko buku. Mulai menyisihkan uang saku yang tak seberapa, bahkan sering merayu ibuku untuk membeli buku incaran. Kala mengeluarkan jurus merayu, dengan nada khasnya almarhumah ibuku pasti menanyaiku "tuku buku terus, mbe woco temenan tah gak?".

Lain lagi ceritanya saat sudah masuk perguruan tinggi. Aku sudah tidak bisa lagi menodong ibu agar diberi uang untuk beli buku. Padahal hasrat membeli dan bahkan membaca --dan menimbun--  buku semakin kuat. Lagi-lagi menyisihkan uang saku adalah cara terbaik. Selain itu, kalau kehabisan bacaan, selalu ada teman yang baik yang bukunya bisa dipinjam. Makasih banyak buat yang sering meminjamiku buku. Maafkan aku yang sering nodong minta asupan bacaan. Aku peminjam yang baik kok. Haha. Makasih juga buat yang sering merekomendasikan untuk baca e-book. Tapi, maaf aku belum betah berlama-lama memegang gawai untuk baca e-book. Lain cerita kalau baca dan balas chat dari kamu, Eaaa :v (kalimat terakhir HOAX!)

Tapi aku sering galau perihal apa yang kubaca. Sering kali minat membeli --untuk ditimbun-- buku-buku rupanya nggak berbanding lurus dengan minat membacanya. Aku sering ditanya sama orang di sekitarku, suka baca buku apa? Dengan ketus aku menjawab, "Embuh. Angger moco.". Tapi nyatanya kadang tidak demikian. Kadang muncul penyakit ketika Agumon berevolusi jadi Greymon--pembaca segala berubah jadi pembaca yang selektif. Selain itu, aku juga sering curhat ke seseorang tentang keresahanku membaca, "Aku ini gak bisa menangkap pengetahuan yang ada di buku secara menyeluruh. Aku nggak suka kalau tahu tentang suatu hal itu setengah-setengah. Apa aku sekalian nggak usah membaca saja ya?". Haha. Dasar labil. Mungkin lebih tepatnya mood lah yang memengaruhi keinginan membacaku. Misalnya, akhir-akhir ini. Entah kenapa pengin cari bacaan tentang agraria dan novel young adult, tentang cinta-cinta gitulah. (Belum terpenuhi. Kalau kamu punya, bolehlah kupinjam? =D )

Aku sadar, masuk fase  'bukan selera saya' atau dalam istilah kids zaman now  disebut  dengan 'not my cup of tea' nyatanya tidak baik. Jika buku adalah jendela dunia maka memilih-milih genre bacaan berarti sama halnya dengan menutup beberapa jendela untuk melihat dunia luar, bukan? Jadi, aku mengeset ulang tujuan membaca. Membaca tanpa pretensi apa-apa. Malah sering berpikiran, sing penting aku seneng. Jadi jangan sensi kalo tanya perihal genre bacaan dan kujawab seperti yang telah kujelaskan di atas, ya. Misal, Aku membaca How Rules the World - Noam Chomsky hari ini, besoknya baca karya Dijah Yellow yang tempo hari viral di twitter ya sah-sah saja.

Oh, iya. Btw, pernah membaca kisah Jorge Luis Borges nggak? Seorang penulis Argentina yang dianggap salah satu tokoh sastra terbesar abad ke-20. Dia adalah manusia pembaca. Hidupnya didedikasikan untuk membaca buku. Bahkan ketika ia mengalami kebutaan pada usia 30-an, dan buta total menjelang usia 60, ia meminta orang lain yang membacakan buku untuknya. Alberto Manguel datang tiga kali seminggu ke rumahnya untuk membacakan segala hal kepada Borges. Beruntungnya Manguel menjadi bagian sejarah dengan menjadi "mata" bagi penulis besar itu.

Borges tidak pernah menganggap kebutaannya adalah sebuah musibah. Ia menyebutnya sebagai anugerah. Dari kebutaan itu justru ia memiliki sensibilitas melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Dengan kebutaan, suatu istrumen lain tercipta, dan kesempatan membangun dunia yang lain dari yang tidak banyak dipahami oleh khalayak.  Dari matanya yang buta asal segala kegelapan bersarang, justru menjadi pangkal cerita imajinasi yang berlapis-lapis. Dari matanya yang buta, Borges tidak benar-benar buta. Pun, ia mempercayai bahwa tugas moral manusia adalah menjadi bahagia. Membaca buku adalah letak kebahagiaanya. Kebutaan tidak pernah menghalanginya untuk membaca, untuk bahagia.

Jadi, kenapa kita harus membaca buku? Salah satunya biar nggak malu sama Jorge Luis Borges.

Sekian. Terima kasih sudah membaca curhatanku.[]


NJUT! Kenapa Harus Membaca?